[studiokeramik Media] : StudioKeramik TV | StudioKeramik.org| Studio Keramik Channel | Studio Keramik Publishing (Penerbitan Buku)

[Social Networks]: Facebook Fan Page| Follow on Twitter | +1 on Google+
_________________________________________________________
Showing posts with label Making Ceramics. Show all posts
Showing posts with label Making Ceramics. Show all posts

Thursday, February 10, 2011

Membuat Keramik Dengan Teknik Putar: Pengantar Praktek Keteknikan


Pembentukan dengan alat putar merupakan proses pembuatan benda keramik menggunakan tangan yang dikenal dengan istilah Throwing, yaitu proses pembuatan benda keramik dengan cara membentuk bola tanah liat plastis dengan jalan menekan dengan tangan pada saat tanah liat berputar di atas kepala putaran.

Pembentukan dengan teknik putar membutuhkan keterampilan tangan, termasuk melatih kepekaan sentuhan tangan dalam mengatur gaya sentripetal tanah liat yang berputar.

Keterampilan memutar lebih merupakan suatu kebiasaan yang memerlukan keseimbangan antara gerakan tangan dengan alat putar. Gerakan dan posisi tangan harus dilakukan berulangkali sehingga menjadi gerakan otomatis (dengan sendirinya/menurut naluri). Oleh karena itu, untuk dapat membentuk benda keramik dengan teknik putar memerlukan banyak latihan yang sebetulnya tidak rumit tetapi membutuhkan kesabaran.

Penguasan kompetensi membentuk benda keramik dengan teknik putar hingga saat ini terus berkembang dan semakin banyak dibutuhkan di dunia kerja terutama produk-produk keramik buatan tangan langsung (handmade) yang memiliki keunikan tersendiri.

Dari semua cara pembentukan benda keramik, Throwing memberikan kemungkinan terbesar bagi penciptaan sebuah karya yang spontan dan cara ini sangat menyenangkan apabila benar-benar dikuasai.

Fungsi Tangan dalam Pembentukan Teknik Putar

Selama proses pembentukan harus menggunakan bagian-bagian tangan yang berbeda sesuai fungsinya. Fungsi bagian-bagian tangan adalah sebagai berikut:

a. Dasar telapak tangan (base of the palm) untuk menekan tanah liat ke bagian tengah dan meratakan tanah liat dalam jumlah banyak pada waktu membuat piring.

b. Ibu jari (thumb) untuk membuka gumpalan tanah liat, mengecek bagian atas, dan untuk memijit (dengan telunjuk).

c. Jari telunjuk (index finger) digunakan untuk melebarkan benda kerja.

d. Ruas jari-jari (knuckle) digunakan untuk meratakan bagian dalam piring dan menarik tanah liat ke atas serta menipiskan.

e. Ujung jari (fingertip) untuk memberi tekanan pada tanah liat dan berfungsi untuk memberikan bentuk.

f. Rongga telapak tangan (hollow of the palm) untuk memberi tekanan ke bawah pada tanah liat selama memusatkan tanah liat.

Sunday, November 28, 2010

Membuat Keramik Dengan Teknik Putar: Penyiapan Tanah Liat

1. Persyaratan Tanah Liat

a. Plastisitas,

Plastisitas tanah liat merupakan syarat utama yang harus dipenuhi agar mudah dibentuk. Hal ini terkait dengan fungsi plastisitas sebagai pengikat dalam proses pembentukan sehingga tidak mudah retak, berubah bentuk atau runtuh.

b. Homogen

Campuran masa tanah liat plastis harus homogen dalam arti plastisitasnya merata dan tidak ada yang keras atau lembek.

c. Bebas dari gelembung udara.

Tanah liat harus terbebas dari gelembung udara, jika dalam tanah liat masih terdapat gelembung udara dapat menyebabkan kesulitan pada waktu proses pembentukan dan dapat menyebabkan retak atau pecah pada waktu proses pengeringan dan pembakaran.

d. Memiliki kemampuan bentuk

Tanah liat harus memiliki kemampuan bentuk yang berfungsi sebagai penyangga sehingga tidak mengalami perubahan bentuk pada waktu proses pembentukan atau setelah proses pembentukan selesai.

Pungulian

Proses pengulian tanah liat dimaksudkan agar tingkat keplastisan dan homogenitas merata serta bebas dari gelembung udara. Proses pengulian dapat dilakukan dengan gerakan spiral sebagai berikut:

1). Tanah liat diangkat ke atas kemudian ditekan ke bawah menggunakan telapak tangan, kemudian didorong ke depan.


2). Lakukan proses seperti di atas beberapa kali untuk memastikan bahwa keseluruhan tanah liat bercampur secara homogen.

3.) Tanah liat diangkat ke atas kemudian ditekan ke bawah menggunakan satu tangan secara terus menerus, cara ini menunjukkan gerakan pengulian spiral.


4). Pengulian silang merupakan cara terbaik untuk mencampur dua atau lebih tanah liat warna. Lakukan pengulian silang lapisan tanah liat yang mencampur dua atau lebih bahan yang berbeda. Lakukan pengulian dua tanah liat yang berbeda warna secara berulang-ulang hingga tercampur merata

Setelah proses pengulian, untuk memastikan tanah liat telah homogen dan bebas dari gelembung udara maka dilakukan proses pengirisan/wedging.

Membuat Keramik Dengan Teknik Putar: Alat Putar Listrik

Alat putar masinal/listrik (electric wheel) merupakan alat putar yang digerakkan motor menggunakan tenaga listrik. Motor berfungsi untuk menggantikan tenaga tangan atau kaki. Alat putar listrik dapat diatur kecepatannya melalui pedal atau tongkat sehingga memungkinkan pemakai lebih berkonsentrasi pada pekerjaan yang dilakukan dengan tangan. Bentuk dan konstruksi alat putar listrik terus mengalami perubahan sesuai kebutuhan, seperti arah putaran yang bisa diubah ke kanan maupun ke kiri sehingga dapat digunakan sesuai kebiasaan pemakai. Alat putar listrik memiliki kecepatan putar antara 200 - 300 rpm yang berarti dalam 1 menit dapat berputar sebanyak 200 - 300 kali. Pengaturan kecepatan alat putar listrik memiliki sistem yang berbeda-beda, antara lain:


1). sistem pressure control cam.

sistem putaran motor dihambat oleh tekanan pedal atau tongkat. Apabila pedal ditekan maka putaran sumbu motor akan terbebas dari tekanan rem sehingga motor dapat berputar secara maksimal, sebaliknya apabila pedal tidak ditekan berarti putaran motor mendapat tekanan sehingga putaran motor menjadi lambat


2). Sistem roda pemutar (fly wheel).
Pada system ini, jika kita menekan pedal maka saklar akan memutar motor kemudian putaran motor menekan kampas pada batang as, sehingga kepala putaran berputar. Apabila pedal dilepaskan maka putaran motor akan berhenti tetapi putaran akan tetap berputar, karena adanya beban roda pemutar (fly wheel). Fly wheel berfungsi untuk mempertahankan kecepatan putaran. Alat putar dengan sistem ini selain digerakkan dengan tenaga listrik juga dapat digerakkan dengan kaki.
3). Sistem rheostat (variabel resistor).
Pada sistem ini, rheostat berfungsi sebagai pengatur kecepatan putaran motor yang digerakkan melalui pedal. Semakin dalam pedal ditekan semakin besar arus yang masuk sehingga motor berputar lebih cepat, sebaliknya apabila pedal tidak ditekan maka arus tidak masuk sehingga motor tidak berputar.
4). Sistem cone.
Pada sistem ini, putaran motor dipindahkan ke puli as kepala putaran melalui cone. Cone berfungsi sebagi alat untuk mempercepat atau memperlambat putaran. Apabila pedal ditekan maka cone yang berputar akan menekan puli sehingga berputar semakin cepat, hal ini terjadi karena diameter cone yang menekan lebih besar dari diameter puli, jadi semakin besar diameter cone maka semakin cepat putaran puli.


Tuesday, November 23, 2010

Membuat Keramik Dengan Teknik Putar: Alat Putar Manual

Secara umum alat putar dibedakan menjadi dua: alat putar manual dan alat putar masinal. Alat putar manual dibedakan lagi menjadi dua yaitu alat putar yang digerakkan tangan (hand wheel) dan alat putar yang digerakan kaki (kick wheel).

Alat Putar Tangan (Hand Wheel).

Alat putar ini merupakan alat yang paling sederhana dan digerakkan atau diputar dengan tenaga tangan. Kepala putaran selain sebagai tempat memutar juga berfungsi sebagai beban pemberat agar putaran lebih tahan lama. Bagian-bagian alat putar tangan:

A. Kepala putaran

B. As putar

C. Lager (bearing)

D. Dudukan putaran

Cara pengoperasian :

Kepala putaran diputar menggunakan tangan kiri berlawanan dengan arah jarum jam sampai berputar dengan cepat.


Alat Putar Kaki (kick wheel)


Alat putar ini merupakan alat yang digerakkan atau diputar dengan kaki. Penggerak alat putar kaki dapat dibedakan menjadi dua yaitu roda pemutar (fly wheel) dan pedal (treadle wheel). Roda pemutar dan kepala putaran yang menggunakan pedal juga berfungsi sebagai beban pemberat sehingga putaran yang dihasilkan menjadi lebih lama


Bagian-bagian Kick Wheel:

A. Kepala putaran

B. As putaran

C. Lager (bearing)

D. Roda pemutar (fly wheel)

E. Meja

F. Dudukan kaki

G. Dudukan lager


H. Tempat duduk

Gambar: Jenis-jenis Alat Putar Kaki Manual

Sunday, November 16, 2008

Membuat keramik dengan teknik pilin bentuk

Pada posting terdahulu telah dijelaskan cara membuat keramik dengan teknik pilin rata. Sekarang kami post-kan cara membuat keramik dengan teknik pilin tetapi tetap mempertahankan nuansa pilin itu sendiri. Secara garis besar caranya sama, hanya pada post kali ini kami sajikan lebih detail.
 
1). Ambil dan potong tanah liat plastis yang sudah diperam menggunakan kawat pemotong.


 
2). Uli tanah liat tersebut di atas meja pengulian hingga benar-benar homogen dan bebas dari gelembung udara, lakukan juga dengan pengirisan (wedging).  


3).Tempatkan papan landasan pada banding wheel, kemudian buatlah lempengan tanah liat dnah liat yang dipipihkan dengan cara ditekan-tekan menggunakan tangan.  


 4). Putar banding wheel pelan-pelan menggunakan tangan kiri dan potong lempengan tanah liat menjadi bentuk lingkaran untuk alas benda menggunakan jarum. Ambil sisa-sisa potongan dari atas banding wheel.  


5).Gores bagian tepi lempengan berbentuk lingkaran menggunakan jarum kemudain olesi dengan slip tanah liat menggunakan kuas.  


6). Buatlah beberapa pilinan tanah liat menggunakan kedua telapak tangan di atas meja kerja, lakukan dengan teliti agar pilinan tersebut memiliki diameter yang relatif sama.  


7). Gores bagian pilinan tanah liat yang akan dirangkai dan olesi dengan slip tanah liat.  

 
8). Tempatkan pilinan tanah liat pada bagian tepi lempengan berbentuk lingkaran, kemudian tekan-tekan agar menyatu dengan kuat. Potong pilinan tanah liat apabila sisa dengan cara memotong miring dan stukan sambungan pilinan tersebut.


9).  Tambahkan beberapa pilinan tanah liat di atas pilinan tanah liat yang sudah dirangkai hingga membentuk silinder.


10). Buatlah pilinan tanah liat kemudian satukan di atas piliinan yang telah dirangkai dengan bentuk yang bervariasi, tekan agar sambungan pilinan menjadi kuat. Buatlah bentuk yang bervariaisi untuk menambah keindahan benda yang dibuat.  


11). Buatlah bola-bola kecil tanah liat untuk menambah variasi pada bentuk silinder pilinan yang dibuat.  Rangkaikan bola-bola tanah liat tersebut pada benda keramik. Bentuk pilinan dan bola-bola tanah liat juga dapat berfungsi sebagai dekorasi.


12). Tambahkan pilinan tanah liat yang seklaigus berfungsi sebagai bibir benda silinder. Rapikan seluruh permukaan benda yang dibuat menggunakan kayu kemudian haluskan dengan  spon.


13). Potong dasar benda menggunakan kawat pemotong, kemudian lepaskan papan landasan dari atas banding wheel.


14). Angkat dan letkkan pada rak pengering karya, agar menjadi kering sebelum dijemur di panas matahari.

 
Koleksi foto: Studio Keramik PPPPTK Seni dan Budaya

Thursday, August 7, 2008

Membuat Kotak Dengan Teknik Lempeng



Teknik lempeng digunakan untuk membuat bentuk-bentuk utamanya bentuk yang memiliki sudut, seperti bentuk kubus, kotak, persegi panjang, segitiga, segi lima , hexagon dan lain sebagainya.

Didalam teknik lempeng di bedakan menjadi 2 jenis tanah :

  • Lempeng lunak (soft slabbing)
  • Lempeng "keras" (hard slabbing)

Jenis lempengan dengan tanah lunak sangat responsive (memudahkan untuk di bentuk), folding (dapat dilipat), crumpling (keriput/kusut), frilling (rumbai-rumbai) dan mudah untuk dibengkokan. Teknik ini jika di kriya tekstil hampir seperti membuat baju atau seni melipat kertas (origami). Sedangkan lempeng "keras" sama seperti joinery (menyambung/merangkai).

Produk yang dapat dibuat dengan teknik ini antara lain :

Lempeng bentuk datar : berupa tegel, relief, papan nama, hiasan dinding dan sebagainya.

Lempeng lipat : wadah, standar buku, tempat surat dan lain-lain.

Lempeng dengan acuan (former) berupa : berbagai bentuk wadah.

Lempeng sambung produknya berupa : tempat alat tulis, asbak, vas, tempat perhiasan dan lain sebagainya.

Untuk memperkuat pada bagian sambungan, pada teknik ini biasanya ditambahkan pilinan pada sudut-sudut yang dirangkai.

Cara menyambung lempengan dilakukan dengan menggores bagian yang akan disambung dan mengolesinya dengan lumpur tanah kemudian disatukan denga kuat.

Berikut ini urutan gambar membuat kotak dengan teknik slab/lempeng.


1. Membuat lempengan dengan roller pin.


2. Memotong lempengan


3. Membuat goresan untuk sambungan


4. Merakit (menyambung antarbagian)


5. Merapikan

Tuesday, August 5, 2008

Membuat Keramik dengan Teknik Pilin

Salah satu keteknikan membuat keramik dengan tangan langsung adalah teknik pilin. Sesuai namanya maka keramik dibuat dari susunan pilinan-pilinan yang disambung. Ketebalan pilinan yang digunakan disesuaikan dengan ketebalan benda yang akan dibuat. Benda keramik yang dibuat dengan teknik pilin dapat diujudkan dalam karakter aslinya yang menampakkan pilinan atau permukaannya dihaluskan sehingga kesan pilinan tidak kelihatan. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah ketika menyambung pilinan, permukaan pilinan yang akan disambung hendakknya dibasahi dengan air atau 'dilem' memakai lumpur tanah liat. Agar lebih kuat, akan lebih baik apabila permukaan yang akan disambung diberi goresan lebih dahulu. Berikut ini langkah langkah membuat benda dengan teknik pilin.

1. Membuat pilinan dengan alas meja kerja atau tangan lamgsung.




2. Alas benda dapat dibuat dengan pilinan atau lempengan tanah liat.


3. Menghaluskan alas benda


4. Memasang dan menyambung pilinan dengan alas.


5. Menghaluskan permukaan benda




6. Menghaluskan keseluruhan permukaan


7. Benda siap dikeringkan.


Selamat mencoba....

sumber gambar: internet

Wednesday, July 16, 2008

Membuat Keramik dengan Teknik Pijit


1. Ambil tanah liat secukupnya, buatlah bola padat,

kemudian tekan pusat bola dengan ibu jari



2. Lakukan penekanan dengan ibu jari secara memutar pada dinding benda

diawali dari bawah terus naik sampai pada bagian bibir benda.




3. Lakukan pemijitan secara menyeluruh hingga terbentuk benda yang diinginkan.



4. Rapikan bagian luar badan benda agar tampilan tampak selesai.


Istilah pinch bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti cubitan atau pijatan, karena tangan kita menekan 'sesuatu'. Teknik ini merupakan keteknikan bagi pemula dalam membentuk sebuah benda keramik, contoh yang sangat sederhana berupa mangkuk atau bentuk organis tak beraturan. Hasil jejak pijitan akan bisa ditampilkan dari tekanan ibujari dan telunjuk tangan anda. Fungsi pemijitan dengan jari adalah untuk mengarahkan bentuk pada benda yang akan dibuat, juga untuk meratakan ketebalan benda secara keseluruhan. Benda yang dihasilkan dari teknik pijit ini berupa bentuk-bentuk keramik yang berukuran relatif kecil sampai sedang. Teknik ini sangat menarik karena pembentukannya secara spontan dan akrab dengan media tanah liat.



Wednesday, January 30, 2008

Gimana sih membuat keramik?

Diposting terdahulu telah dijelaskan berbagai keteknikan membuat keramik. Supaya lebih jelas mari kita lihat video membuat keramik dengan teknik putar.
http://www.youtube.com/watch?v=38HuxYUdbHE


Tuesday, October 30, 2007

Membuat Keramik

Oleh: Rohmat Sulistya | Studio Keramik PPPPTK Seni dan Budaya



Membuat keramik memerlukan teknik-teknik yang khusus dan unik. Hal ini berkaitan dengan sifat tanah liat yang plastis dimana diperlukan ketrampilan tertentu dalam pengolahan maupun penanganannya. Membuat keramik berbeda dengan membuat kerajinan kayu, logam, maupun yang lainnya. Proses membuat keramik adalah rangkaian proses yang panjang yang didalamnya terdapat tahapan-tahapan kritis. Kritis, karena tahapan ini paling beresiko terhadap kegagalan. Tahapan proses dalam membuat keramik saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Proses awal yang dikerjakan dengan baik, akan menghasilkan produk yang baik juga. Demikian sebaliknya, kesalahan di tahapan awal proses akan mengasilkan produk yang kurang baik juga.

Tahap-tahap membuat keramik
Ada beberapa tahapan proses yang harus dilakukan untuk membuat suatu produk keramik, yaitu:
1. Pengolahan bahan
Tujuan pengolahan bahan ini adalah untuk mengolah bahan baku dari berbagai material yang belum siap pakai menjadi badan keramik plastis yang telah siap pakai. Pengolahan bahan dapat dilakukan dengan metode basah maupun kering, dengan cara manual ataupun masinal. Didalam pengolahan bahan ini ada proses-proses tertentu yang harus dilakukan antara lain pengurangan ukuran butir, penyaringan, pencampuran, pengadukan (mixing), dan pengurangan kadar air. Pengurangan ukuran butir dapat dilakukan dengan penumbukan atau penggilingan dengan ballmill. Penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan material dengan ukuran yang tidak seragam. Ukuran butir biasanya menggunakan ukuran mesh. Ukuran yang lazim digunakan adalah 60 – 100 mesh.


Pencampuran dan pengadukan bertujuan untuk mendapatkan campuran bahan yang homogen/seragam. Pengadukan dapat dilakukan dengan cara manual maupun masinal dengan blunger maupun mixer.

Pengurangan kadar air dilakukan pada proses basah, dimana hasil campuran bahan yang berwujud lumpur dilakukan proses lanjutan, yaitu pengentalan untuk mengurangi jumlah air yang terkandung sehingga menjadi badan keramik plastis. Proses ini dapat dilakukan dengan diangin-anginkan diatas meja gips atau dilakukan dengan alat filterpress.

Tahap terakhir adalah pengulian. Pengulian dimaksudkan untuk menghomogenkan massa badan tanah liat dan membebaskan gelembung-gelembung udara yang mungkin terjebak. Massa badan keramik yang telah diuli, disimpan dalam wadah tertutup, kemudian diperam agar didapatkan keplastisan yang maksimal.

2. Pembentukan
Tahap pembentukan adalah tahap mengubah bongkahan badan tanah liat plastis menjadi benda-benda yang dikehendaki. Ada tiga keteknikan utama dalam membentuk benda keramik: pembentukan tangan langsung (handbuilding), teknik putar (throwing), dan teknik cetak (casting).

Pembetukan tangan langsung
Dalam membuat keramik dengan teknik pembentukan tangan langsung, ada beberapa metode yang dikenal selama ini: teknik pijit (pinching), teknik pilin (coiling), dan teknik lempeng (slabbing).

Pembentukan dengan teknik putar
Pembentukan dengan teknik putar adalah keteknikan yang paling mendasar dan merupakan kekhasan dalam kerajinan keramik. Karena kekhasannya tersebut, sehingga keteknikan ini menjadi semacam icon dalam bidang keramik. Dibandingkan dengan keteknikan yang lain, teknik ini mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi. Seseorang tidak begitu saja langsung bisa membuat benda keramik begitu mencobanya. Diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk melatih jari-jari agar terbentuk ’feeling’ dalam membentuk sebuah benda keramik. Keramik dibentuk diatas sebuah meja dengan kepala putaran yang berputar. Benda yang dapat dibuat dengan keteknikan ini adalah benda-benda yang berbentuk dasar silinder: misalnya piring, mangkok, vas, guci dan lain-lain. Alat utama yang digunakan adalah alat putar (meja putar). Meja putar dapat berupa alat putar manual mapupun alat putar masinal yang digerakkan dengan listrik.

Secara singkat tahap-tahap pembentukan dalam teknik putar adalah: centering (pemusatan), coning (pengerucutan), forming (pembentukan), rising (membuat ketinggian benda), refining the contour (merapikan).

Pembentukan dengan teknik cetak
Dalam keteknikan ini, produk keramik tidak dibentuk secara langsung dengan tangan; tetapi menggunakan bantuan cetakan/mold yang dibuat dari gipsum. Teknik cetak dapat dilakukan dengan 2 cara: cetak padat dan cetak tuang (slip). Pada teknik cetak padat bahan baku yang digunakan adalah badan tanah liat plastis sedangkan pada teknik cetak tuang bahan yang digunakan berupa badan tanah liat slip/lumpur. Keunggulan dari teknik cetak ini adalah benda yang diproduksi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis. Berbeda dengan teknik putar atau pembentukan langsung,

3. Pengeringan
Setelah benda keramik selesai dibentuk, maka tahap selanjutnya adalah pengeringan. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk menghilangkan air plastis yang terikat pada badan keramik. Ketika badan keramik plastis dikeringkan akan terjadi 3 proses penting: (1) Air pada lapisan antarpartikel lempung mendifusi ke permukaan, menguap, sampai akhirnya partikel-partikel saling bersentuhan dan penyusutan berhenti; (2) Air dalam pori hilang tanpa terjadi susut; dan (3) air yang terserap pada permukaan partikel hilang. Tahap-tahap ini menerangkan mengapa harus dilakukan proses pengeringan secara lambat untuk menghindari retak/cracking terlebih pada tahap 1 (Norton, 1975/1976). Proses yang terlalu cepat akan mengakibatkan keretakkan dikarenakan hilangnya air secara tiba-tiba tanpa diimbangi penataan partikel tanah liat secara sempurna, yang mengakibatkan penyusutan mendadak.

Untuk menghindari pengeringan yang terlalu cepat, pada tahap awal benda keramik diangin-anginkan pada suhu kamar. Setelah tidak terjadi penyusutan, pengeringan dengan sinar matahari langsung atau mesin pengering dapat dilakukan.

4. Pembakaran
Pembakaran merupakan inti dari pembuatan keramik dimana proses ini mengubah massa yang rapuh menjadi massa yang padat, keras, dan kuat. Pembakaran dilakukan dalam sebuah tungku/furnace suhu tinggi. Ada beberapa parameter yang mempengaruhi hasil pembakaran: suhu sintering/matang, atmosfer tungku dan tentu saja mineral yang terlibat (Magetti, 1982). Selama pembakaran, badan keramik mengalami beberapa reaksi-reaksi penting, hilang/muncul fase-fase mineral, dan hilang berat (weight loss). Secara umum tahap-tahap pembakaran maupun kondisi api furnace dapat dirinci dalam tabel.

Pembakaran biskuit
Pembakaran biskuit merupakan tahap yang sangat penting karena melalui pembakaran ini suatu benda dapat disebut sebagai keramik. Biskuit (bisque) merupakan suatu istilah untuk menyebut benda keramik yang telah dibakar pada kisaran suhu 700 – 1000oC. Pembakaran biskuit sudah cukup membuat suatu benda menjadi kuat, keras, kedap air. Untuk benda-benda keramik berglasir, pembakaran biskuit merupakan tahap awal agar benda yang akan diglasir cukup kuat dan mampu menyerap glasir secara optimal.


5. Pengglasiran
Pengglasiran merupakan tahap yang dilakukan sebelum dilakukan pembakaran glasir. Benda keramik biskuit dilapisi glasir dengan cara dicelup, dituang, disemprot, atau dikuas. Untuk benda-benda kecil-sedang pelapisan glasir dilakukan dengan cara dicelup dan dituang; untuk benda-benda yang besar pelapisan dilakukan dengan penyemprotan. Fungsi glasir pada produk keramik adalah untuk menambah keindahan, supaya lebih kedap air, dan menambahkan efek-efek tertentu sesuai keinginan.

Kesemua proses dalam pembuatan keramik akan menentukan produk yang dihasilkan. Oleh karena itu kecermatan dalam melakukan tahapan demi tahapan sangat diperlukan untuk menghasilkan produk yang memuaskan.