[studiokeramik Media] : StudioKeramik TV | StudioKeramik.org| Koran Studio Keramik | Studio Keramik Channel | Studio Keramik Publishing (Penerbitan Buku)

[Social Networks]: Facebook Fan Page| Follow on Twitter | +1 on Google+
_________________________________________________________

Tuesday, September 29, 2009

Asal-Usul Tanah Liat



Sumber: Buku Sekolah Elektronik Kriya Keramik, Wahyu Gatot Budiyanto dkk, Depdiknas.


Tanah liat sebagai bahan utama pembuatan benda keramik terdapat hampir di seluruh belahan dunia, namun demikian tanah liat tersebut satu sama lain memiliki sifat yang berbeda-beda. Akan tetapi tanah liat yang dapat digunakan untuk pembuatan benda keramik harus memenuhi persyaratan tertentu. Salah satu sifat tanah liat yang dibutuhkan untuk dapat dibuat benda keramik adalah memiliki daya kerja yang memungkinkan tanah liat tersebut untuk dibentuk dan dapat mempertahankan bentuknya hingga menjadi benda keramik melalui proses pemanasan (pembakaran). Tanah liat (clay) merupakan bahan plastis yang dapat berubah menjadi keras dan tahan terhadap air setelah mengalami proses pengeringan dan pembakaran.
Ada beberapa jenis tanah liat yang dapat langsung digunakan untuk pembuatan benda keramik, sedangkan lainnya harus dimurnikan terlebih dahulu atau harus dicampur dengan bahan lain agar dapat digunakan untuk membuat benda keramik. Contoh tanah liat yang langsung dapat digunakan tanpa mencampur dengan bahan lain adalah tanah liat earthenware dan stoneware, sedang tanah jenis porselen harus dicampur dengan bahan lain
yang plastis (seperti: ballclay atau bentonite) agar mudah dibentuk. Tanah liat dan mineral anorganik non logam adalah produk alam yang merupakan bahan baku pembuatan benda keramik seperti: perangkat makan-minum, bahan bangunan, bahan tahan api, alat elektronik, benda seni, benda kerajinan dan sebagainya. Tanpa bahan-bahan alam tersebut produk keramik tidak mungkin dibuat.

Proses Pembentukan Tanah Liat secara Alami

Hampir semua tanah liat yang ada di Indonesia disebut “lempung”. Lempung merupakan produk alam, yaitu hasil pelapukan kulit bumi yang sebagian besar terdiri dari batuan feldspatik, berupa batuan granit dan batuan beku. Sebelum berpindah, tanah liat merupakan mineral murni yang terdapat pada batuan panas dan padat yang kemudian larut. Batuan yang larut bukan lagi
batuan yang keras seperti aslinya namun sudah berubah menjadi batuan yang lunak dan terurai serta berubah warna karena terbawa arus air. Hasil peristiwa tersebut terbentuk partikel-partikel halus dan sebagian besar dipindahkan oleh tenaga air, angin dan gletser ke suatu tempat yang lebih rendah dan jauh dari batuan induk dengan ukuran partikel yang hampir sama, sedangkan sebagian lagi tetap tinggal di lokasi dimana batuan induk berada.

TANAH LIAT

Alam memproduksi tanah liat secara terus menerus, sehingga tidak mengherankan jika tanah liat terdapat dimana-mana dan jumlahnya sangat besar. Karena jumlahnya sangat besar, dapat dipastikan manusia tidak akan mampu menghabiskannya. Sesungguhnya bentuk permukaan bumi selalu berubah, terjadinya gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, benua benua,
pulau-pulau dan sebagainya tidak dalam waktu sekejap, tetapi memakan waktu jutaan tahun.
Tanah tanah liat alam yang paling mumi masih mengandung butiran-butiran bebas dan bahan-bahan pasir atau debu. Umumnya unsur-unsur tambahan ini terdiri dari kwarsa, feldspar, besi dan sebagainya juga ada unsur organik Iainnya menentukan sifat-sifat dari bermacam tanah liat dan penggunaannya untuk tujuan-tujuan tertentu. Beberapa sifat tanah liat yang umum adalah
sifat untuk hancur dalam air, warna sebelum dan setelah dibakar, plastis sebelum dibakar, keras dalam keadaan kering, padat dan kuat setelah dibakar.

Pembentukan Mineral-Mineral Kulit Bumi

Permukaan bumi yang kita diami sekarang ini adalah hasil pendinginan kulit bumi yang menutupi bagian dalam bumi yang masih sangat panas (magma). Ketika bumi masih dalam masa lebur, bahan-bahan berat seperti unsur logam cenderung mengendap ke tingkat terdalam. Karena proses pengendapan, komposisi kimia kulit bumi di semua bagian mendekati seragam. Semakin bumi mendingin, lapisan teratas yang disebut kulit bumi akan memadat dan membatu. Batuan yang terbentuk karena proses pendinginan disebut batuan beku (igneous rock). Komposisi kimia kulit bumi yang terdiri atas batuan granit atau batuan beku sampai kedalaman �� 16 km, sebagai berikut:

SiO2 ………………... 59.14
Al2O3 ……………….15.38
Al2O3 + FeO ……..... 6.88
CaO ………………… 5.08
Na2O ………………. 3.84
MgO ……………….. 3.49
K2O ………………… 1.13
H2O ………………… 1.15
TiO2 ………………… 1.05
Lain-lain …………… 0.90
(sumber: Frank Hammer and Janet Hammer).

Yang menarik dari analisis kimia di atas, adalah sangat sedikit oksida besi atau oksida logam lain yang membentuk kulit bumi, tetapi justru unsur-unsur silika (SiO2) dan alumina (Al2O3) paling mendominasi pembentuk kulit bumi.

Peranan Tenaga Endogen dan Eksogen terhadap
Pembentukan Tanah Liat

Diperkirakan dua milyar tahun silam tenaga alam yang besar mulai mengubah permukaan bumi pada batuan “Feldspatik”. Suatu interaksi antara atmosfir bumi yang mengandung gas dengan permukaan bumi akan saling memberikan pengaruh. Pada saat bumi mendingin, uap air di atmosfir yang berbentuk gas mulai mengembun dan terjadilah hujan. Air hujan kemudian mengisi cekungan-cekungan membentuk lautan dan memberikan pengaruh pada permukaan daratan yang mempunyai garis permukaan lebih tinggi. Air merupakan salah satu faktor penting yang dapat merubah permukaan bumi. Air dapat melarutkan bebatuan dalam jumlah banyak. Selama jutaan bahkan milyaran tahun, air telah mengikis gunung-gunung dan meratakan
lembah-lembah. Adanya mineral garam di laut yang jumlahnya diperkirakan 1500 milyar ton membuktikan bahwa begitu besarnya kekuatan air yang mengikis bebatuan dan melarutkan bahan-bahan alkali dan mineral lain yang telah tergerus, serta mengalirkan ke tempat-tempat yang lebih rendah dan akhirnya ke laut. Air dapat juga membelah bebatuan dengan cara menyusup ke celah-celah retakan. Pada musim dingin dengan suhu mencapai sekitar 0ยบ, air yang berada di celah-celah batu tersebut akan membeku dan mengembang akhirnya memecah bebatuan tadi menjadi kepingan-kepingan lebih kecil. Selain air, tumbuhan juga dapat menghancurkan bebatuan yang keras. Melalui tenaga rambat, akar-akarnya dapat memasuki celah-celah retakan batu dan dalam pertumbuhannya cenderung memecah batu tersebut menjadi unit yang lebih kecil. Angin dan gletser juga dianggap sebagai tenaga alam yang hebat dan dapat memindahkan mineral tanah liat yang halus hasil pelapukan batuan
feldspatik ke tampat yang jauh dari batuan induknya. Tenaga alam yang dapat merubah permukaan bumi dibedakan menjadi dua, yaitu:

Tenaga Eksogen

Tenaga eksogen menyebabkan terjadinya perubahan pada permukaan bumi karena pengaruh air, angin, gletser dan tumbuhan. Pada saat bola yang membara mulai mendingin, terjadilah penyusutan. Akibatnya bahan-bahan mineral yang ada di dalam bumi terdorong ke atas membentuk bukit-bukit dan gunung-gunung. Oleh proses pelapukan dan erosi yang terus menerus sepanjang zaman, bukit dan gunung tersapu bersih, mineral-mineral yang berupa lumpur tanah liat mengalir bersama-sama air ke tempat rendah dan akhirnya mengendap di danau-danau atau lautan.

Tenaga Endogen

Tenaga endogen menyebabkan terjadinya perubahan di dalam bumi oleh karena pengaruh tenaga panas dan gempa bumi yang sangat hebat. Lapisan endapan disorong lagi ke atas menjadi bukit-bukit dan gununggunung. Demikian seterusnya yang dikeluarkan dari dalam bumi berupa uap panas, tekanan gas, gempa bumi dan sebagainya itu disebut tenaga endogen.

Proses Terbentuknya Tanah Liat Primer dan Sekunder

Telah dijelaskan bahwa tanah liat merupakan mineral murni yang terdapat pada batuan panas dan padat, karena terjadi pelapukan maka terbentuk partikel-partikel halus dan sebagian besar dipindahkan oleh tenaga air, angin dan gletser ke suatu tempat yang lebih rendah dan jauh dari batuan induk dengan ukuran partikel yang hampir sama, sedangkan sebagian lagi tetap tinggal di lokasi dimana batuan induk berada. Selama berpindah tanah liat menjadi tidak murni, kehilangan mineral-mineral pengikatnya, hasilnya berupa jenis tanah liat mulai dari yang kasar sampai halus dengan kemungkinan terjadi perubahan warna dan komposisinya. Dari peristiwa
alam tersebut, maka terdapat tanah liat yang tidak berpindah tempat atau terdapat di daerah asalnya, tanah liat ini disebut tanah liat primer yang merupakan hasil akhir dari serangkaian proses yang juga disebut tanah liat residu, contoh tanah liat yang umum adalah china clay atau kaolin. Sedangkan tanah liat yang berpindah dari daerah asalnya dan mengendap di daerah rendah disebut tanah liat sekunder atau tanah liat sedimen, seperti ballclay, red marls (campuran tanah liat, pasir, dan kapur), stoneware, dll.

Tanah liat merupakan suatu mineral yang terbentuk dari struktur partikel-partikel yang sangat kecil, terutama dari mineral-mineral yang disebut Kaolinit, yaitu persenyawaan dari Oksida Alumina (Al2O3), dengan Oksida Silika (SiO2) dan Air (H2O). Bentuk partikel-partikelnya seperti lempengan kecil-kecil hampir berbentuk segi enam (hexagonal) dengan permukaan yang datar yang tidak dapat dilihat dengan mata secara langsung, dengan bentuk partikel seperti ini
menyebabkan tanah liat mempunyal sifat liat (plastis) dan mudah dibentuk bila dicampur dengan air, hal ini karena partikel-partikel tersebut saling meluncur satu dengan yang lain dengan air sebagai pelumasnya.

Tanah liat dalam ilmu kimia termasuk Hidrosilikat Alumina, yang dalam keadaan murni mempunyai rumus:

Al2O3 2SiO2 2H2O

Satu partikel tanah liat dibuat dari satu molekul aluminium (2 atom Alumina dan 3 atom Oksigen), dua molekul Silikat (2 atom Silika dan 2 atom Oksigen), dan dua molekul Air (2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen). Formula tersebut terdiri dari:

39% Oksida Alumina
47% Oksida Silika
14% Air

Perubahan secara alamiah yang berlangsung terus menerus menyebabkan terbentuknya tanah liat primer dan sekunder, yang juga menyebabkan perbedaan tempat ditemukan (pengendapan) tanah liat tersebut.


No comments:

Post a Comment