[studiokeramik Media] : StudioKeramik TV | StudioKeramik.org| Studio Keramik Channel | Studio Keramik Publishing (Penerbitan Buku)

[Social Networks]: Facebook Fan Page| Follow on Twitter | +1 on Google+
_________________________________________________________
Showing posts with label Ilmu Keramik. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Keramik. Show all posts

Tuesday, September 1, 2015

Pengembangan Formula Badan Keramik stoneware dengan Metode Line Blend

tanah-liat-bojonegoro
Oleh: Wahyu Gatot Budiyanto

Metode line blend merupakan metode tes praktis untuk menentukan persyaratan tanah liat yang dilakukan dengan mencampur dua jenis tanah liat sejenis. Tujuan kegiatan ini adalah melakukan pengembangan badan keramik stoneware metode line blend pembakaran cone 5 (1196 C) dengan campuran dua bahan  tanah liat Bojonegoro dan abu vulkanik Gunung Kelud. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah eksperimen yang dilakukan dengan pengujian plastisitas, penyusutan, vitrifikasi, dan porositas pada pembakaran cone 5 (1196 C). Instrumen dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan obervasi (pengamatan) dan dokumentasi hasil pengujian, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula badan keramik stoneware dengan metode line blend pembakaran cone 5 (1196 C) yang memenuhi persyaratan adalah formula BN-4 yaitu campuran tanah liat Bojonegoro 60% dan abu vulkanik Gunung Kelud 40%.

Selanjutnya bia didownload di sini.

Monday, February 17, 2014

Abu Vulkanik Untuk Bahan Keramik?

Studio Keramik berada di kawasan Yogyakarta, dimana propinsi ini merupakan salah satu daerah terdampak yang dapat dikatakan cukup parah. Ketebalan abu vukanik yang menutup jalan maupun atap bervariasi mulai 2 cm sampai 4 cm. Sebagai contoh di daerah Kalasan, untuk penggal jalan kampung dengan panjang 11 m dan lebar 4 m diperoleh abu seberat 150-200 kg. Sehingga dapat dibayangkan berapa banyak material vulkanik yang tersebar jauh dari pusat semburan.
Setelah 3 hari libur terkena dampak abu, pada hari Senin 17/02/2014, kantor mulai buka. Betapa terkejutnya kami ketika melihat hamparan padang pasir+debu di kawasan kantor PPPPTK Seni dan Budaya yang sangat tebal. Padahal jarak kantor ini dengan Kediri tak kurang dari 250 KM. Apalagi sampai hari Selasa ini (ketika tulisan ini dibuat) belum ada tanda-tanda hujan akan turun dengan deras.
Kerja bakti membersihkan abu Kelud

Abu menutup taman keramik

Kerja bakti

Kerja bakti


Abu Kelud
Sudah 2 (dua) kali ini Studio Keramik terdamapak abu vulkanik dalam 5 tahun terakhir. Yang pertama tahun 2010 dengan adanya erupsi merapi yang cukup besar. Pada waktu ini abu yang turun cukup tebal menyelimuti kawasan kantor. Tetapi butiran pada waktu itu terasa lebih kasar. Hal ini logis karena kawasan studio keramik hanya berjarak 18 KM dari Merapi, sehingga kawasan ini mendapatkan material yang lebih kasar.
Yang kedua adalah abu vulkanik dari gunung Kelud yang berjarak sekitar 250 KM pada hari Jumat  14.02.2014 kemarin. Ketebalan abu di kawasan Studio Keramik mencapai 3-4 cm. Abu ini berwarna putih keruh dan cukup halus hampir sebanding dengan kehalusan semen.
Abu vulkanik ini mengandung sebagian besar silika. Material silika ini sangat dekat dengan bahan keramik karena material utama keramik adalah silika dan alumina. Dalam badan keramik silika berfungsi sebagai bahan non plastis untuk meningkatkan kekuatan benda mentah, sedangkan dalam glasir, silika berfungsi sebagai pembentuk gelas.
Dapatkah abu vulkanik menjadi bahan pembuat keramik? Beberapa waktu yang lalu, ketika Merapi berupsi, Studio Keramik telah membuat eksperimen kecil untuk mengetahui seberapa besar kemanfaatan abu merapi untuk bahan penambah pada keramik. Dan hasilnya, abu dapat dimanfaatkan untuk campuran badan keramik terutama sangat berperan dalam badan keramik raku. Keramik raku memerlukan badan khusus yang kuat terhadap kejut suhu. Dan abu Merapi cukup baik untuk memberikan peran tersebut.
Kemungkinan abu Kelud juga tidak jauh berberda dengan abu Merapi. Dalam waktu dekat kami akan membuat eksperimen sederhana untuk mengetahui kemanfaatan abu Kelud yang turun pada radius 250 KM dari pusat letusan pada badan keramik dan glasir.

Sunday, June 9, 2013

Kriya Keramik dan Sains (3)

Pemahaman sains meminimalisasi ‘trial and error’.


Lapisan glasir yang menempel pada benda keramik adalah sebuah kolaborasi antara seni, sains, dan teknologi yang kompleks. Dalam proses pengolahan, penerapan, dan pelelehan glasir terlibat bidang-bidang seni, geologi, fisika, kimia dan bidang lain yang tak kalah pentingnya yaitu lingkungan. Glasir yang terbuat dari mineral-mineral tanah merupakan mineral tambang secara geologis, dan mempunyai rumus kimia yang amat sangat kompleks. Di tahun 1990-an terjadi booming benda keramik hias yang mengkilat cerah dan sangat menarik. Para pengrajin menggunakan glasir timbal berwarna merah (lead meni) sebagai bahan utama glasir keramik. Bahkan mereka banyak yang mengglasir produk keramik itu tanpa masker dan sarung tangan. Lebih ironis lagi apabila mereka tidak tahu bahwa glasir itu adalah timbal yang berbahaya.

Ketidakpahaman kita akan sains di kriya harus segera diputus agar generasi mendatang mempunyai pemahaman yang utuh dalam lingkup kerja mereka pada sektor kriya. Pemahaman utuh ini akan menyelamatkan kita dari potensi kesalahan-kesalahan dimasa mendatang yang lazim dilakukan saat ini. Pengaruh yang sangat nyata adalah meminimalisasi ‘trial and error’ disegala hal. Sebuah contoh adalah pada perancangan resep glasir keramik. Tanpa kita mengetahui ilmu kimia keramik maka kita hanya akan melakukan ‘trial and error’. Bahan-bahan baku glasir akan dicampur secara acak dan coba-coba untuk menghasilkan glasir baru. Kalau kita takut melakukan coba-coba pencampuran bahan glasir maka database glasir kita tidak akan bertambah dan inovasi/modifikasi tidak akan terjadi.

Pemahaman sederhana sains pada kriya akan membantu mengarahkan kita pada tujuan yang lebih tepat dan efisien. Apabila kita belajar kimia keramik dan fisika keramik maka kita akan mempunyai panduan yang jelas terhadap salah satu contoh diatas. Desain terhadap glasir baru lebih terarah, modifikasi terhadap glasir lama mempunyai alasan ilmiah yang kuat. Dan metode trial and error hanya akan sedikit kita lakukan. Walaupun belum tentu berhasil 100%, tetapi arah pengembangan yang dilakukan akan menuju target yang dituju.

Pengaruh pemahaman sains pada kriya yang lain adalah meminimalisasi potensi bahaya pada tubuh dan lingkungan. Banyak diantara kita mengabaikan potensi-potensi bahaya yang akan terjadi pada tubuh dan lingkungan. Kita sering melupakan masker dan membuang bahan sisa secara sembarangan. Padahal sebagian bahan-bahan yang digunakan pada industri kriya berbahaya bagi tubuh dan lingkungan. Pemahaman akan sifat-sifat bahan akan membuat kita lebih waspada dan lingkungan di sekitar kita juga terhindar dari kerusakan.

Rangkuman.

Ada hal-hal positif yang dapat kita peroleh apabila kita memahami secara sederhana aspek-aspek sains pada kriya. Hal-hal positif itu antara lain: (1) kita akan sadar bahwa ada keterkaitan yang erat antara sains dan kriya; (2) proses desain produk yang dilakukan akan lebih tepat dan efisien apabila kita memahami secara sederhana aspek sains pada kriya; (3) potensi-potensi bahaya akan dapat diminimalisasi dengan meningkatnya pemahaman sains utamanya berkaitan dengan sifat-sifat bahan dan prosedur proses yang benar; dan (4) banyak keuntungan-keuntungan lain apabila kita sedikit belajar aspek sains pada kriya.

Sumber bacaan:

1. d.wikipedia.org/wiki/Kriya

2. id.wikipedia.org/wiki/Ilmu

3. Prof. Dr. C.A. van Peursen: Filsafat Sebagai Seni Untuk Bertanya. Dikutip dari buku B. Arief Sidharta. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu?, Pustaka Sutra, Bandung 2008. Hal 7-11. Dikutip dari Wikipedia Indonesia.

4. Nelson, G.C., (1984) Ceramics: A Potter Handbook, CBS College Publishing, New York.



Sumber gambar:

1. Koleksi Studio Keramik PPPPTK Seni dan Budaya

2. http://czechabsinthe.files.wordpress.com/2007/04/molecule.jpg

http://www.gustinceramics.com/tile/samples/img/thumb/complete_samples.jpg

Kriya Keramik dan Sains (2)

Kriya Keramik

.
Kriya keramik menggunakan media tanah liat/lempung –yang merupakan bahan baku keramik- untuk mewujudkan karya-karya yang bernilai pakai dan/atau bernilai seni. Apabila produk yang dihasilkan lebih cenderung kepada benda-benda estetis maka produk itu dikategorikan sebagai keramik seni. Apabila produk yang dihasilkan lebih cenderung kepada benda pakai maka produk itu dikategorikan sebagai keramik fungsional. Tetapi dikotomi tersebut bukanlah harga mati. Bahkan lebih sering dijumpai produk-produk yang mempunyai 2 nilai sekaligus: sebagai karya seni dan benda fungsi. Piring keramik yang kita gunakan sebagai alat makan minum (keramik fungsional) pastilah mempunyai hiasan tertentu (seni) agar produk yang ditampilkan lebih menarik. Demikian juga figurin-figurin sebagai pemanis ruangan (elemen estetis) sering kali juga difungsikan sebagai vas bunga (keramik fungsional) yang menambah keindahan ruangan.
Ketika kita menyaksikan sebuah mangkok dibuat, secara kasat mata kita hanya menyaksikan seorang perajin dengan sebongkah tanah berbentuk bola ditangannya, kemudian melemparkannya ke kepala putaran mesin putar tradisional dan mulailah si perajin dengan tangan lincahnya memutar bola tanah liat itu sedemikian rupa hingga terjadilah sebuah mangkok cantik. 




Kita tidak sempat memikirkan berapa ukuran mangkok yang dipesan oleh pengorder dibandingkan dengan ukuran mentah mangkok keramik dibuat. Inilah salah satu sisi sains yang selayaknya diketahui oleh pegiat keramik, utamanya anak-anak kita (baca: siswa-siswa kriya keramik) yang sedang menfokuskan diri belajar kriya keramik. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak kita nantinya tidak hanya mengandalkan metode ‘titen’ seperti orang tuanya, tetapi juga ada alasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan untuk melakukan sesuatu. Bukankah komet yang melintas di langitpun sudah dapat diprediksi jauh-jauh hari sebelum hal itu terjadi?

Sains di kriya.

“Kita lemah pada desain!”. Ungkapan tersebut seringkali kita dengar untuk menggambarkan stagnasi yang terjadi pada beberapa sektor industri di Indonesia, tidak terkecuali industri seni kriya. Desain mencakup segala ilmu. Desain tidak dapat diterjemahkan secara sempit sebagai menggambar. Karena mencakup segala ilmu maka kita tidak dapat lepas sedikit pun dari sains. Apakah semua sains harus dipelajari? Kalau hal itu dapat kita lakukan, maka tidak ada salahnya. Sehingga kita berkesempatan memiliki banyak kompetensi yang berbeda layaknya Leonardo Da Vinci. Tetapi kemampuan kita terbatas. Ada hal-hal kecil saja dalam salah satu ilmu sains yang sangat berkaitan dengan kriya yang harus dipelajari.






Kembali ke mangkok keramik. Untuk membuat mangkok keramik, kita memerlukan data penyusutan tanah saat dikeringkan maupun saat dibakar. Penyusutan ini adalah fenomena fisika dan menjadi ranah ilmu fisika. Prinsipnya sederhana, bahwa tanah liat basah terdiri dari 2 (dua partikel utama) yaitu partikel lempung dan partikel air. Partikel air mengisi rongga-rongga diantara partikel lempung. Partikel air akan menguap dan meninggalkan partikel lempung ketika tanah liat dikeringkan. Sebagai akibatnya partikel lempung akan saling mendekat dan terjadilah susut. Persentase susut akan sangat penting ketika kita akan mendesain sebuah mangkok. Tanpa kita memasukkan data penyusutan yang terjadi, kita akan selalu salah dalam mendesain ukuran mangkok.


Gambaran tersebut menjelaskan betapa pentingnya mempelajari sains sederhana agar pekerjaan kita dibidang kriya lebih terarah.

Tuesday, June 4, 2013

Kriya Keramik dan Sains (01)

Oleh: Rohmat Sulistya
---artikel dimuat dalam majalah artista edisi tahun 2011---



Kita tentu sering menggunakan piring atau mug untuk makan dan minum sehari-hari. Sebagian piring-piring yang kita gunakan terbuat dari keramik. Keramik mengandung beberapa terminologi penting yang keduanya saling berkaitan erat tetapi terkadang diabaikan. Para pegiat sains dan teknologi akan selalu mengaitkan keramik dengan isolator, superkonduktor, Na2Rb0.5Cs0.5C60 , (BEDO-TTF)2ReO4H2O, dan bahan-bahan dengan rumus kimia yang superpanjang lainnya. Sedangkan para pegiat seni akan selalu berpikir tentang tanah liat apabila mendengar kata keramik. Ada juga kalangan industri yang mengaitkan keramik dengan ubin dan barang-barang saniter. Dari sini dapat kita lihat bahwa banyak aspek-aspek menarik yang terkait dengan keramik: sains, teknologi, dan seni. Hal yang sama juga terjadi pada jenis-jenis seni kriya yang lain. Bahkan ada beberapa buku yang secara khusus membahas aspek-aspek sains dalam seni tradisi. Istilah kriya tidak akan lepas dari seni. Kriya merupakan kegiatan seni yang menitikberatkan kepada keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku yang sering ditemukan di lingkungan menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai, tetapi juga bernilai estetis (Wikipedia Indonesia). Jadi jika dikembalikan kepada definisinya maka kegiatan kriya akan menghasilkan suatu produk yang bernilai pakai dan bernilai seni. Kriya banyak menggunakan dimensi-dimensi seni murni tetapi tetap tidak terlalu berkonsentrasi pada pemenuhan kepuasan emosi seperti lazimnya yang terjadi pada seni murni. Jenis-jenis kriya sering diklasifikasikan berdasarkan bahan baku atau media untuk mewujudkan produk/karya. Sehingga sering kita mendengar istilah kriya kayu, kriya tekstil, kriya kulit, kriya logam, kriya keramik, kriya bambu, dan lain-lain. Tetapi ada juga kalangan yang tidak mau membedakan media yang digunakan untuk mewujudkan karya, karena terkadang media yang digunakan adalah campuran dari media-media yang tersedia. 
Sedangkan sains (ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.. Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu (Wikipedia Indonesia).  [bersambung]

Wednesday, May 15, 2013

Bagaimana Membuat Keramik Berglasir?


Untuk mendapatkan produk keramik berglasir, hal utama yang perlu disiapkan terlebih dahulu adalah keramik biskuit. Keramik biskuit merupakan benda keramik yang telah mengalami pembakaran biskuit. Pembakaran biskuit ini dilakukan pada suhu 700 – 900 C. Apabila dilakukan pada suhu kurang dari 700 C kemungkinan benda masih sangat rapuh, dan sangat beresiko untuk diglasir. Sedangkan pembakaran biskuit melebihi 900 C mengakibatkan pori-pori benda menjadi terlalu kecil. Pori-pori benda harus cukup untuk menyerap glasir agar menempel pada benda tersebut. Pori-pori yang terlalu kecil (karena benda sudah terlalu padat/dense/compact) akan sangat menyulitkan glasir untuk menempel pada benda tersebut.
Mengglasir dengan teknik semprot/spray

Setelah benda tersedia, maka mulai dilakukan pengglasiran. Pengglasiran dapat dilakukan dengan cara semprot, tuang, atau celup. Untuk detai-detail yang kecil dapat dilakukan dengan kuas. Ketebalan glasir harus diperhatikan  dengan baik, karena glasir yang terlalu tipis mapupun yang terlalu tebal sama-sama menghasilkan prduk bakaran yang jelek. Berapa ketebalan glasir yang baik? Dengan cara tradisional, ketebalan ini dapat dikira-kira saja. Biasanya setelah glasir dilapiskan, dilakukan sedikit goresan untuk mengukur ketebalan itu. Kalau diukur secara tepat mungkin sekitar 0,5 mm. Dalam proses yang lebih modern, kekentalan glasir selalu diukur dan biasanya dinyatakan dalam satuan poise atau centipoises.
Setelah semua dilakukan, tahap selanjutnya adalah membakar keramik itu pada suhu yang sesuai. Untuk glasir suhu rendah, pembakaran dilakukan pada suhu 1000 – 1150 C, sedangkan glasir suhu menengah, pembakaran disekitar 1200-1250 C. Lama pembekaran tergantung pada kondisi tungku, dan jenis tungku. Pada tungku yang masih baik, biasanya kecepatan pembakaran dapat diatur cepat atau lambatnya dengan pengaturan modul program (pada tungku listrik) atau dengan pengaturan gas pembakaran (pada tungku gas). Tetapi untuk tungku yang sudah tidak terlalu efesien, waktu pembakran itu bias sangat lama, bahkan lebih dari 12 jam.
Produk keramik didalam tungku

Penentuan kondisi matang berdasarkan waktu pembakaran, tidak terlalu tepat karena penempatan dan kuatitas benda yang dibakar juga menentukan lamanya pembakaran. Pada pencapaian suhu yang sama, tidak mesti membutuhkan waktu yang sama. Maka dari itu ada penentuan yang lebih tepat yaitu dengan alat indicator suhu dan pirometrik cone. Alat indicator suhu terdiri dari dua rangkaian yaitu termokopel dan pyrometer. Termokopel adalah alat yang dikenakan panas dan bersentuhan langsung dengan api, sedangkan pyrometer adalah alat yang membaca sensor panas dari termokopel dan mengubahnya menjadi skala angka.

Mengapa Glasir Dapat Mengkilap?


Sering timbul pertanyaaan kenapa glasir yang melapisi keramik bias mengkilap, padahal bahan-bahanya berasal dari tanah juga. Glasir dapat mengkilap disebabkan oleh pembakaran yang sangat tinggi. Semua bahan yang ada dialam ini mempunyai titik lebur pada suhu tertentu. Sebagai contoh dalam keseharian kita adalah apabila kita memegang es batu pada telapak tangan kita maka sedikit demi sedikit es situ akan mencair/meleleh. Apabila suhu es mencair itu kita ukur dengan thermometer maka akan kita dapati bahwa es akan meleleh menjadi air pada suhu 0 C. Lebih tinggi dari suhu 0 C es akan berujud cairan yang kita kenal sebagai air, sedangkan pada suhu dibawah 0 C air akan berujud menjadi padatan yang sangat keras yang kita saksikan sebagai es batu.
Demikian juga dengan bahan-bahan keramik. Pada kondisi biasa bahan-bahan itu berujud sebgai material-material padat yang mungkin sangat keras. Karena cukup keras, bahkan bahan-bahan itu memerlukan sebuah ballmill untuk menggilingnya. Sebagai suatu material, bahan-bahan tersebut juga memiliki titik lebur tertentu. Karena merupakan materi tanah maka titik lebur bahan-bahan kramik sangatlah tinggi. Sebagai contoh suatu glasir A akan melebur pada suhu 1200C. Dengan demikian pada suhu 1200 itu glasir akan meleleh dan lelehannya itu akan menutup badan keramik. Lelehan yang terjadi biasanya akan berupa lelehan bening/transparan dan mengkilap. Apabila pada glasir itu ditabahkan bahan-bahan lain maka efek yang mungkin timbul adalah efek menutup (opaque) atau efek buram/matt. Efek ini sebenarnya merupakan sebuah upaya menghambat terjadinya lelehan yang sempurna. Hal ini akan kita bahas pada bagian selanjutnya.
bahan glasir

Proses peleburan glasir.
Proses pembakaran glasir yang menyebabkan peleburan glasir tidaklah terlalu berbeda dengan proses pembakaran badan keramik itu sendiri. Dalam sebuah analisis menggunakan metode Differntial Thermal Analisys terlihat bahwa bahan-bahan keramik akan mengalami beberapa tahapan penting yaitu penghilangan air dan unsur-unsur organis, inverse kuarsa, pembentukan mineral-mineral sintesis dan pada akhirnya terjadilah peleburan mineral-mineral yang merupakan pencapaian titik kematangan. Leburan material tersebut akan mengisi pori-pori/ronga-ronga pada badan keramik dan sisanya akan meleleh menyelubungi permukaan badan keramik tersebut. Glasir yang telah matang sempurna akan menghasilkan kilap meyerupai kaca. Hal ini dimungkinkan karena lelehan tersebut didominasi oleh leburan silica yang dalam suhu kamar memang menyerupai kaca.  Leburan itu dengan sempurna menutup permukaan bdan keramik dan menimbulkan efek kilap dan transparan. Kesan transparent ini muncul karena campuran glasir tersebut berada dalam kondisi seimbang. Dalam ilmu glasir keseimbangan akan mengakibatkan transparansi sedangkan ketidaksimbangan mengakibatkan keburaman/matt.

Friday, May 3, 2013

Problem Badan Tanah Liat dan Perbaikannya

Badan tanah liat yang akan kita gunakan sering kali mempunyai karakter yang kurang sesuai dengan karakter/sifat yang kita kehendaki. Apalagi kalau kita menggunakan tanah liat tunggal. Pada pengrajin pun hampir pasti ditemui penambahan-penambahan bahan lain agar badan keramik yang didapatkan sesuai dengan karakter yang diinginkan. Penambahan yang laing sederhana adalah menambahkan pasir untuk memperoleh kekuatan kering, atau pencampuran dengan tanah liat untuk mendapatkan keplastisan tertentu.
Penambahan-penambahan ini erat kaitannya dengan pengembagan badan keramik yang telah dibicarakan pada posting sebelumnya.

Berikut ini diuraikan beberapa problem badan keramik yang sering muncul dan bagaimana menanganinya.
1. Terlalu lengket : kurangi ballclay (jika dalam campuran menggunakan ballclay) atau tambahkan fireclay. Fireclay adalah salah satu bahan keramik yang non plastis.
2. Terlalu berpasir. Apabila badan keramik terlalu berpasir maka harus ada tahap penyaringan dulu untuk menghilangkan pasir. Penyaringan dapat dilakukan dengan cara basah maupun kering.
3. Kurang plastis. Badan tanah liat yang kurang plastis dapat ditambahkan ballclay atau bentonit. Daya platis bentonit lebih besar daripada ballclay.
4. Penyusutan tinggi. Susut disebabkan oleh material yang relatif lebih plastis misalnya ballclay, atau tanah liat earthenware. Untuk mengurangi susut dapat ditambakan material nonplatis misalnya fireclay atau grog.
5. Mengkaca pada suhu rendah. Ini adalah fenomena matang pada suhu rendah. Biasanya badan keramik ini tersusun dari jenis tanah liat yang tergolong earthenware berwarna coklat. Untuk mengatasinya tambahkan material memiliki suhu matang tinggi misalnya kaolin, fireclay, atau silika.
6. Tanah terlalu gelap atau terang. Jika terlalu gelap, badan tanah liat dapat dikombinasi dengan bahan berwarna putih misal kaolin, fireclay, atau tanah liat yang relatif putih. Apabila terlalu terang dapat ditambahkan pewarna atau tanah liat yang lebih gelap.

Thursday, May 2, 2013

Hitung Glasir (2) : Unity Formula

Di dalam formula glasir telah ada susunan menurut 3 golongan yang disebut RO-column. Selanjutnya harus diterima sebagai suatu perjanjian didalam kolom/golongan I yaitu didalam golongan RO  apabila dijumlahkan akan menjadi bulat 1. Hal ini dilakukan untuk mempermudah perbandingan formula yang satu dengan yang lain, karena dengan demikian dapat dilihat dengan langsung juga perbandingan antara oksida-oksida dalam golongan RO itu yang bersifat flux dengan oksida-oksida dalam golongan RO2 yaitu SiO2.
Mari kita perhatikan rumus empiris berikut ini.


RO
R2O3
RO2
PbO     0.224
Al2O3        0.139
SiO2       0.408
CaO     0.06


            0.284



Hasil penjumlahan pada kolom RO diatas 0,284. Untuk menjadikan rumus tersebut sebagai unity formula maka hasil penjumlahn kolom RO harus 1. Sehingga angka-angka tersebut harus dibagi dengan 0,284 dan didapatkanlan unity formula berikut ini: 


RO
R2O3
RO2
PbO     0.8
Al2O3        0.5
SiO      1.5
CaO     0.2


            1.0



Hitung Glasir (1) : Rumus Seger


Di dalam bahan-bahan keramik, unsur-unsur/senyawa-senyawa yang terkandung didalamnya bukanlah unsur/senyawa kimia murni. Sebagian besar bahan keramik adalah suatu senyawa kompleks. Sebagai contoh kaolinit yang mempunyai rumus molekul Al2SiO5(OH4); dolomit mempunyai rumus molekul CaMg(CO3)2 . Dapat diamati bahwa rumus-rumus tersebut rumit dan sukar dihafal. Untuk mengatasi hal tersebut Herman Seger memperkenalkan suatu penulisan rumus molekul yang dikenal dengan rumus empiris. Karena yang pertama memperkenalkan adalah Herman Seger maka rumus tersebut lebih dikenal dengan rumus seger.

Rumus ini didasarkan pada senyawa-senyawa yang ‘paling umum ada’, misalnya Na2O, B2O3, H2O, A2O3, SiO2, CaO, MgO, CO2

Contoh:
Kaolin memiliki rumus kimia Al2SiO5(OH4). Untuk mensistematiskan rumus ini maka disusunlah penulisannya menjadi rumus seger sebagai berikut: Al2O3.2SiO2.2H2O. 

Kapur/kalsium karbonat memiliki rumus kimia CaCO3 . Rumus segernya adalah CaO.CO2.
Dengan demikian kita dapat dengan lebih mudah menghafal dan merumuskan bahan-bahan yang kita kehendaki asalkan kita mengerti unsur-unsur apa yang menjadi penyusun sebuah bahan. Misalnya untuk menuliskan rumus seger kaolin kita harus memahami unsur-unsur yang terlibat dalam kaolin yaitu Al, Si, dan air. Kemudian kita dapat 'mendekatkan' unsur-unasur tersebut dalam sebuah rumus seger, Kalaupun tidak tepat, itu wajar karena koefisien molekul harus kita pastikan lagi dari referensi yang lain.

Tuesday, January 15, 2013

Tungku Pembakaran Keramik (2)


Selamat tahun baru 2013; semoga tahun ini menjadi tahun yang jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah artikel pertama ditahun ini.

Klasifikasi Tungku menurut Bahan Bakarnya

Bahan apapun yang dapat terbakar dapat digunakan untuk membakar keramik, tetapi sejak dulu pembakaran mempergunakan kayu dan batu bara, sedangkan pada perkembangan terakhir pembakaran menggunakan minyak dan gas. Sekarang sumber panas yang baru untuk pembakaran keramik ialah listrik.

Jenis tungku berdasarkan bahan bakar (sumber panas) yang digunakan dapat digolongkan menjadi lima macam, yaitu:

1).   Tungku bahan bakar gas

Tungku pembakaran keramik  dengan bahan bakar gas saat  ini dirasakan relatlf Iebih murah dan mudah dibandingkan dengan tungku lainnya.
Dengan menggunakan tungku gas maka kondisi pembakaran netral, oksidasi atau reduksi dapat dengan mudah dicapai, dengan mengatur gas, saluran udara primer dan damper.


 2).   Tungku listrik,

Tungku listrik merupakan alat pembakaran benda keramik dengan menggunakan tenaga listrik. Tenaga listrik tersebut diubah menjadi tenaga panas dan tenaga panas inilah yang akan mematangakan badan tanah liat menjadi keramik. Pembakaran dengan tungku listrik merupakan cara pembakaran yang paling mudah dan efisien karena dalam tungku listrik biasanya telah dilengkapi perlengkapan kontrol yang memadai, seperti saklar/tombol penyala yang sekaligus berfungsi sebagai regulator (pengatur energi listrik), program pembakaran (waktu maupun suhu pembakaran), thermocouple-pyrometer sebagai penunjuk suhu bakar.

Bagian-bagian tungku listrik:



Keterangan:
·           Vent, lubang pada bagian atas tungku yang berfungsi untuk keluarnya uap air pada saat proses pembakaran berlangsung.
·           Pyrometer, alat pengukur tinggi temperatur bakar di dalam ruang pembakaran.
·           Thermocouple, alat yang berfungsi untuk memancarkan informasi temperatur ruang tungku pembakaran ke pyrometer.
·           Element, kumparan untuk menghaliskan panas pada tungku pembakaran
·           Spy hole, lubang untuk mengintai pancang suhu yang terpasnga dalam ruang tungku pembakaran      
·           Safety interlockpengaman pintu tungku pembakaran untuk mencegah pintu terbuka selama proses pembakaran.
·           Fire brickbata tahan api yang berfungsi sebagai isolasi panas yang efektif dan aman. 
·           Heat input control, pengendali temperature selama proses pembakaran berlangsung.
·           Indicator lightlampu indicator yang menunjukkan ada tidaknya aliran listrik yang masuk.
·           Heat fuse, alat untuk mencegah tungku pembakaran dari pembakaran yang terlalu tinggi.

3).   Tungku bahan bakar padat (kayu, batu bara),

Tungku pembakaran keramik  dengan bahan bakar kayu merupakan cara pembakaran tradisional yang sederhana. Salah satu pembakaran sederhana yaitu pembakaran sistem ladang. Cara ini dilakukan di ladang terbuka dengan menggunakan bahan bakar jerami, kayu, serbuk gergaji atau bahan yang mudah terbakar lainnya.
Jenis ini merupakan salah satu cara pembakaran keramik yang paling tua. Saat ini tungku tradisional yang paling banyak dijumpai adalah tungku bak terbuka yang banyak digunakan oleh perajin.


4).   Tungku bahan bakar minyak,

Tungku pembakaran benda keramik menggunakan bahan bakar minyak tanah biasanya dilakukan dengan tungku catenary. Pembakaran dengan tungku catenary lebih rumit dari pada tungku bak terbuka, untuk mengoperasikan jenis tungku ini diperlukan pengalaman.
 


Tungku jenis ini memerlukan alat untuk pengapian (burner) yang didesain secara khusus biasanya dilengkapi dengan alat penghembus udara (blower), pada tungku dengan bahan minyak tanah ini tekanan minyak sangat diperlukan sehingga penempatan drum atau tanqki minyak harus dletakkan pada tempat yang cukup tinggi sehingga denqan gaya gravitasi bumi minyak dapat mengalir apabila kran dibuka.

Secara umum cara kerja kompor pembakar adalah untuk menghasilkan panas dengan merubah minyak menjadi gas dengan bantuan udara baik alami (sekitar) maupun udara dari blower sehingga mudah terbakar.


 Bagian-bagian tungku bahan bakar minyak:


tungku catenary (tampak depan).


tungku catenary (tampak samping).

Sunday, June 10, 2012

Dekorasi Keramik: Ukir (Carving)

Teknik ukir adalah teknik dekorasi yang lazim diterapkan pada media kayu. Tetapi ternyata media keramik pun dapat diukir sebagaimana media kayu. Benda keramik dalam keadaan leatherhard dibuat pola-pola yang dikehendaki, kemudian diukir menggunakan alat dekorasi keramik. Bagiamana prosesnya? Berikut kami sajikan bagaimana membuat ukiran pada media keramik mentah.


Buatlah motif diatas permukaan benda kerja dengan goresan menggunakan pensil atau benda   tajam lainnya.


Keruklah jejak pola tersebut  menggunakan alat pengukir, lakukan hingga selesai.


 














Bersihkan sisa-sisa tanah menggunakan kuas, kemudian keringan dengan cara diangin-anginkan, kemudian dibakar biskuit.
















Glasirlah biskuit  dengan teknik semprot menggunakan  alat penyemprot.


















Tambahkan dekorasi pada permukaan benda dengan pewarna, lakukan  dengan cara melukis diatas permukaan benda berglasir.



















Hasil akhir produk keramik dengan  hiasan ukir yang dilapisi glasir.







Dekorasi Keramik: Marbling Permukaan

Dekorasi marbling terbagi menjadi 2 jenis yaitu marbling bodi dan marbling permukaan. Pada dekorasi marbling bodi, tektur menyerupai marmer terjadi pada seluruh badan keramik, sedangkan pada dekorasi marbling permukaan, hanya permukaan benda keramik saja yang menyerupai tekstur/motif marmer. Proses pengerjaan dekorasi marbling permukaan lebih sederhana. Bahan yang diperlukan adalah benda keramik mentah (leather hard) dan 2 (dua) atau lebih slip tanah liat warna. Dalam contoh proses berikut akan dutampilkan tahapan membuat dekorasi marbling permukaan menggunakan 2 jenis slip warna yaitu merah dan putih. 


 1. Siapkan benda keramik berbentuk piring dalam kondisi basah.











2. Tuang slip warna merah pada area yang akan dihias, tuangkan lagi warna lain, misalnya warna putih.















3. Goyangkan secara cepat.

















     4. Tuang balik, pada wadah yang telah disiapkan.















5. Rapikan pada bagian pinggir benda menggunakan spon basah. 
 
















6. Bakar benda keramik pada suhu pembakaran biskuit (900 C)