[studiokeramik Media] : StudioKeramik TV | StudioKeramik.org| Koran Studio Keramik | Studio Keramik Channel | Studio Keramik Publishing (Penerbitan Buku)

[Social Networks]: Facebook Fan Page| Follow on Twitter | +1 on Google+
_________________________________________________________

Sunday, June 9, 2013

Kriya Keramik dan Sains (2)

Kriya Keramik

.
Kriya keramik menggunakan media tanah liat/lempung –yang merupakan bahan baku keramik- untuk mewujudkan karya-karya yang bernilai pakai dan/atau bernilai seni. Apabila produk yang dihasilkan lebih cenderung kepada benda-benda estetis maka produk itu dikategorikan sebagai keramik seni. Apabila produk yang dihasilkan lebih cenderung kepada benda pakai maka produk itu dikategorikan sebagai keramik fungsional. Tetapi dikotomi tersebut bukanlah harga mati. Bahkan lebih sering dijumpai produk-produk yang mempunyai 2 nilai sekaligus: sebagai karya seni dan benda fungsi. Piring keramik yang kita gunakan sebagai alat makan minum (keramik fungsional) pastilah mempunyai hiasan tertentu (seni) agar produk yang ditampilkan lebih menarik. Demikian juga figurin-figurin sebagai pemanis ruangan (elemen estetis) sering kali juga difungsikan sebagai vas bunga (keramik fungsional) yang menambah keindahan ruangan.
Ketika kita menyaksikan sebuah mangkok dibuat, secara kasat mata kita hanya menyaksikan seorang perajin dengan sebongkah tanah berbentuk bola ditangannya, kemudian melemparkannya ke kepala putaran mesin putar tradisional dan mulailah si perajin dengan tangan lincahnya memutar bola tanah liat itu sedemikian rupa hingga terjadilah sebuah mangkok cantik. 




Kita tidak sempat memikirkan berapa ukuran mangkok yang dipesan oleh pengorder dibandingkan dengan ukuran mentah mangkok keramik dibuat. Inilah salah satu sisi sains yang selayaknya diketahui oleh pegiat keramik, utamanya anak-anak kita (baca: siswa-siswa kriya keramik) yang sedang menfokuskan diri belajar kriya keramik. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak kita nantinya tidak hanya mengandalkan metode ‘titen’ seperti orang tuanya, tetapi juga ada alasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan untuk melakukan sesuatu. Bukankah komet yang melintas di langitpun sudah dapat diprediksi jauh-jauh hari sebelum hal itu terjadi?

Sains di kriya.

“Kita lemah pada desain!”. Ungkapan tersebut seringkali kita dengar untuk menggambarkan stagnasi yang terjadi pada beberapa sektor industri di Indonesia, tidak terkecuali industri seni kriya. Desain mencakup segala ilmu. Desain tidak dapat diterjemahkan secara sempit sebagai menggambar. Karena mencakup segala ilmu maka kita tidak dapat lepas sedikit pun dari sains. Apakah semua sains harus dipelajari? Kalau hal itu dapat kita lakukan, maka tidak ada salahnya. Sehingga kita berkesempatan memiliki banyak kompetensi yang berbeda layaknya Leonardo Da Vinci. Tetapi kemampuan kita terbatas. Ada hal-hal kecil saja dalam salah satu ilmu sains yang sangat berkaitan dengan kriya yang harus dipelajari.






Kembali ke mangkok keramik. Untuk membuat mangkok keramik, kita memerlukan data penyusutan tanah saat dikeringkan maupun saat dibakar. Penyusutan ini adalah fenomena fisika dan menjadi ranah ilmu fisika. Prinsipnya sederhana, bahwa tanah liat basah terdiri dari 2 (dua partikel utama) yaitu partikel lempung dan partikel air. Partikel air mengisi rongga-rongga diantara partikel lempung. Partikel air akan menguap dan meninggalkan partikel lempung ketika tanah liat dikeringkan. Sebagai akibatnya partikel lempung akan saling mendekat dan terjadilah susut. Persentase susut akan sangat penting ketika kita akan mendesain sebuah mangkok. Tanpa kita memasukkan data penyusutan yang terjadi, kita akan selalu salah dalam mendesain ukuran mangkok.


Gambaran tersebut menjelaskan betapa pentingnya mempelajari sains sederhana agar pekerjaan kita dibidang kriya lebih terarah.

1 comment:

  1. The know-how utilized by most 3D printers to date—especially hobbyist and consumer-oriented models—is fused deposition modeling, a special utility of plastic extrusion, developed in 1988 by S. Scott Crump and commercialized Stylus Pens by his company Stratasys, which marketed its first FDM machine in 1992. Setting the extruder on the correct top above the build platform when beginning a print job can also be|can be} necessary for a lot of} printers. The process, known as as|often identified as} Z-axis calibration, is normally carried out manually by decreasing the extruder till it's so near the build platform that a sheet of paper positioned between them strikes with slight resistance.

    ReplyDelete